hanya penasaran.

aku hanya penasaran bagaimana para penjual koran menjajakan lembaran kertas itu ditengah-tengah kerubunan gas beracun dari kendaraan dipersimpangan jalan
aku hanya penasaran bagaimana para penjual puluhan tumpukan buku di rak-rak yang sampai menyentuh atap yang tampak lapuk di jalanan Malioboro
aku hanya penasaran bagaimana para penjaga perpustaka'an ditengah-tengah desakan ruangan ditengah keheningan
apakah mereka ikut menimbrung membaca lembaran yang beberapa sudah usang juga?
apakah mereka ikut mengikuti arah deretan kalimat di lembaran koran yang mereka jajakan?
apakah mereka ikut membaca apa yang hampir setiap hari mereka rapikan di rak-rak buku yang menjadi saksi bisu pencari bacaan?

jika memang iya, aku hawatir mereka sudah menjadi ahli dalam bidang membaca berbagai hal dalam segala keadaan
aku hawatir jangan-jangan pagi tadi bapak penjual koran itu sudah membaca bagaimana keresahan anak manusia dalam memulai hari sabtu paginya
aku hawatir jangan-jangan malam kemarin-kemarin ibu penjual buku itu sudah membaca bagaimana kelelahan manusia-manusia yang sengaja mampir untuk mengalihkan keresahan kehidupan
aku hawatir jangan-jangan mas atau mbak penjaga ruangan berbau lembaran buku itu membaca bagaimana kecemasan mahasiswa yang diam-diam mengutuk skripsi yang sedang dikerjakan

hawatir dengan yang biasa ahli membaca lembaran kertas, tiba tiba ahli membaca keresahan manusia
tapi, sepertinya aku lebih hawatir . .
bagaimana jika mereka sampai membaca bagaimana gugup nya aku saat melihat mu disaat waktu dan tempat bersamaan dengan salah satu dari mereka ?
aku tidak yakin, apakah mereka tidak tertawa melihat semburat kemerahan yang muncul dikedua pipi putri semesta kali itu 
aku yakin, disaat itu salah satu dari mereka pasti sedang menertawakan aku dan membicarakan nya dengan semesta

"lihat semesta, putri mu sedang malu-malu. ah, manis sekali."


Komentar