Jingga di Teras Rumah



untuk melihat matahari kembali berpulang saja harus melipir kebibir pantai terkenal

untuk melihat warna jingga keemasan yang terpancar saja, harus membutuhkan perjalanan yang cukup menguras waktu

untuk menikmati angin sore dengan lukisan berpadu warna keunguan dilangit saja, harus merogoh kantong setengah dalam

pemandangan yang membuat kaki anak manusia rela berjalan jauh, hanya untuk memanjakan mata dengan perpaduan warna

padahal hanya untuk menikmatinya, cukup sekedar berduduk santai di teras rumah dengan segelas cokelat panas, beberapa lirik lagu sendu ataupun obrolan hangat dan menyenangkan dari orang tersayang
sesederhana itu untuk menyaksikan nya

bahkan terkadang tak perlu dicari jauh jauh-pun,pemandangan semacam ini akan dengan senang hati menawarkan diri untuk dinikmati 

dan nyatanya aku-pun melakukan hal yang sepatutnya sederhana namun dibuat serumit mungkin jadinya

tapi setidaknya jingga yang terpancar sore itu mengingatkan aku dengan seseorang yang memang sangat pas dengan panas nya segelas cokelat saat dilidah

ibu . .
menurutku belum ada sosok yang pas dengan segelas cokelat panas untuk menikmati matahari terbenam saat langit cerah, kecuali ibu
mungkin lebih tepatnya, belum kutemukan lagi sosok yang pas selain beliau

dari dulu hubungan ku dengan nya tak bisa dianggap sangat dekat sebagai seorang putri satu satunya
saling tak bisa mengungkapkan kasih sayang dan bercerita lewat kata kata, tapi terkadang langsung melalui tindakan

tapi tepat sore itu ada yang berbeda arti percakapan lewat gawai tersebut,
"ibu lagi apa ? ini lagi sendirian po?" (tanyaku dengan sedikit aksen jawa)
"iya, ini ibu lagi diteras rumah sendirian. disini bentar lagi maghrib, itu lagi kultum bapak-bapak dimasjid kaya' biasanya. dijogja pasti sudah maghrib ya, jangan lupa sholat" (dengan nada nasihat-nya)
"iya bu"
"sepi disini, sendirian ibu diteras. biasanya ada kamu sambil dengerin musik sore sore gini di teras" (ucapnya)
" :)) " 

tepat saat itu untuk pertama kalinya ada perasaan yang membuat keinginan diri ini benar benar ingin pulang
tepat saat itu, pikiranku tentang "pintu kemana saja" memang perlu di realisasikan didunia nyata

sesuatu yang terlihat sederhana dan terkadang dirasa tak bermakna
entah  kenapa terasa akan berbeda ketika diri ditanah rantau dan orang terkasih jauh disana mengucapkan kesan tersendiri untuKnya

yang ku tau, tepat sore itu diteras rumah 
ibu hanya menyampaikan lewat rentetan ceritanya, bahwa . .
"nak, ibu rindu"

Komentar